Sahabat Nabi SAW Saja Kadang Keliru dalam Menafsirkan Al-Qur’an



loading…

Prof Dr M Quraish Shihab, MA mengatakan Al-Quran yang merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW , sekaligus petunjuk untuk umat manusia kapan dan di mana pun, memiliki pelbagai macam keistimewaan. Keistimewaan tersebut, antara lain, susunan bahasanya yang unik memesonakan, dan pada saat yang sama mengandung makna-makna yang dapat dipahami oleh siapa pun yang memahami bahasanya, walaupun tentunya tingkat pemahaman mereka akan berbeda-beda akibat berbagai faktor.

Quraish Shihab dalam bukunya berjudul “ Membumikan Al-Quran , Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat” (Mizan, 1996) menjelaskan redaksi ayat-ayat Al-Quran, sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti, kecuali oleh pemilik redaksi tersebut. Hal ini kemudian menimbulkan keanekaragaman penafsiran.

“Dalam hal Al-Quran, para sahabat Nabi sekalipun, yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan arti kosakatanya, tidak jarang berbeda pendapat, atau bahkan keliru dalam pemahaman mereka tentang maksud firman-firman Allah yang mereka dengar atau mereka baca itu,” ujar Quraish Shihab.

Menurut Quraish Shihab, dari sini kemudian para ulama menggarisbawahi bahwa tafsir adalah “penjelasan tentang arti atau maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia (mufasir)”, dan bahwa “kepastian arti satu kosakata atau ayat tidak mungkin atau hampir tidak mungkin dicapai kalau pandangan hanya tertuju kepada kosakata atau ayat tersebut secara berdiri sendiri.”

Rasulullah SAW mendapat tugas untuk menjelaskan maksud firman-firman Allah ( QS 16 :44). Tugas ini memberi petunjuk bahwa penjelasan-penjelasan beliau pasti benar. Hal ini didukung oleh bukti-bukti, antara lain, adanya teguran-teguran yang ditemukan dalam Al-Quran menyangkut sikap atau ucapan beliau yang dinilai Tuhan “kurang tepat”, misalnya QS 9 :42; 3:128, 80:1, dan sebagainya, yang kesemuanya mengandung arti bahwa beliau ma’shum (terpelihara dari melakukan suatu kesalahan atau dosa).

Menurut Quraish Shihab, dari sini mutlak perlu untuk memperhatikan penjelasan-penjelasan Nabi tersebut dalam rangka memahami atau menafsirkan firman-firman Allah, sehingga tidak terjadi penafsiran yang bertentangan dengannya, walaupun tentunya sebagian dari penafsiran Nabi tersebut ada yang hanya sekadar merupakan contoh-contoh konkret yang beliau angkat dari masyarakat beliau, sehingga dapat dikembangkan atau dijabarkan lebih jauh oleh masyarakat-masyarakat berikutnya.

Misalnya ketika menafsirkan al-maghdhub ‘alayhim ( QS 1 :7) sebagai “orang-orang Yahudi”, atau “quwwah” dalam QS 8 :60 yang memerintahkan mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh, sebagai “panah”.

“Memang, menurut para ulama, penafsiran Nabi SAW bermacam-macam, baik dari segi cara, motif, maupun hubungan antara penafsiran beliau dengan ayat yang ditafsirkan,” ujar Quraish Shihab.

Misalnya, kata Quraish Shihab lagi, ketika menafsirkan shalah al-wustha dalam QS 2 :238 dengan “salat Ashar”, penafsiran itu adalah penafsiran muthabiq dalam arti sama dan sepadan dengan yang ditafsirkan.

Sedangkan ketika menafsirkan QS 40 ;60, tentang arti perintah berdoa, beliau menafsirkannya dengan beribadah. “Penafsiran ini adalah penafsiran yang dinamai talazum. Artinya, setiap doa pasti ibadah, dan setiap ibadah mengandung doa. Berbeda dengan ketika beliau menafsirkan QS 14 :27,” jelas Quraish Shihab.

Di sana beliau menafsirkan kata akhirat dengan “kubur”. “Penafsiran semacam ini dinamakan penafsiran tadhamun, karena kubur adalah sebagian dari akhirat,” jelasnya lagi.

Harus digarisbawahi pula, kata Quraish Shihab, bahwa penjelasan-penjelasan Nabi tentang arti ayat-ayat Al-Quran tidak banyak yang kita ketahui dewasa ini, bukan saja karena riwayat-riwayat yang diterima oleh generasi-generasi setelah beliau tidak banyak dan sebagiannya tidak dapat dipertanggungjawabkan otentisitasnya, tetapi juga “karena Nabi SAW sendiri tidak menafsirkan semua ayat Al-Quran”. Sehingga tidak ada jalan lain kecuali berusaha untuk memahami ayat-ayat Al-Quran berdasarkan kaidah-kaidah disiplin ilmu tafsir, serta berdasarkan kemampuan, setelah masing-masing memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu.

(mhy)



Source link

Julia L. Bellamy

Leave a Comment

A note to our visitors

This website has updated its privacy policy in compliance with changes to European Union data protection law, for all members globally. We’ve also updated our Privacy Policy to give you more information about your rights and responsibilities with respect to your privacy and personal information. Please read this to review the updates about which cookies we use and what information we collect on our site. By continuing to use this site, you are agreeing to our updated privacy policy.